Judul 37 Tempat Pulang Ku namakan Shalat

Selamat malam semua...


Untuk yang sudah simak beberapa judul di blog jatuh bangun jadi dewasa, terima kasih yah.. Semoga apapun yang aku tulis dan kalian baca sama-sama mendapatkan kebaikan. Tidur nyenyak yah.

Di fase semakin bertumbuh menuntut kita sebagai orang yang ambisius. Menghalalkan segala cara agar impian misalnya kerja di perusahaan ternama, bisa kerja kantoran, pengusaha sukses atau to the list lain agar bisa segera direalisasi. Di tengah perjalanan proses itu kadang terasa sekali lelahnya, kecewanya, sedihnya, bahagianya, dilemanya, kocaknya. Campur aduk. 

Ada nggak yang pernah ngerasain kalau kita terlalu berlebihan mengajar dunia?

Apakah kalian tenang sejauh ini?

Apakah hal itu yang sebenarnya kita cari?

Coba cek hatimu, barangkali ada sesuatu yang lebih kita inginkan dibandingkan soal duniawi.

Nar, yakin bahwa di balik hati yang selalu berusaha kuat, tegar ternyata menyimpan banyak lelah yang tak ingin diutarakan, bener ta?

Kadang kita memilih rasa tenang itu dengan tidak mencarinya pada orang lain melainkan diam, melihat dan menyimak apa yang terjadi di hadapan kita.

Teman-teman perlu tau, dunia di satu waktu memaklumi untuk jadi manusia bertumbuh, berkarier tapi akan ada di satu waktu pula dunia akan membuat kita hancur entah ekspektasi yang terlalu tinggi, berharap lebih, dan hanya mengandalkan diri sendiri tidak melibatkan Allah Sang Pemilik Kehidupan ini.

Kadang lelah dengan semuanya, tapi dimana kah tempat kita bercerita, atau sekadar ingin didengar?

Beberapa dari kita mungkin bercerita dengan orang tua, saudara bahkan sahabat. Tapi kita tak benar-benar menemukan solusi atau sekadar tenang. Selain itu, kita bisa saja ingin memiliki waktu sendiri entah jalan-jalan ke tempat wisata, pusat kota, perpustakaan, atau bisa jadi laut.

Ada loh tempat pulang yang akan merasakan ketenangan. Kita nggak harus jauh cuma ambil sajadah, shalat dan rasakan ketenangan itu. Walaupun masalah yang dihadapi di hari itu nggak selesai 100% paling tidak kita bisa merasa tenang, nggak sendirian, selalu punya backingan yaitu Allah. Rabb Semesta Alam. Nar baru-baru ini, lihat postingan umma Acen, yang ngebuat kita banyak merenung dan tertampar sih Nar bilang, Acen anak kecil yang mungkin seusia sekarang lebih ingin bermain bersama teman-temannya ketimbang memilih untuk berbicara di depan kamera. Acen kemarin memberi Nar pelajaran luar biasa. Saat ummanya menanyakan "kenapa Acen masih mau shalat? Kan sakit." Dia dengan tatapan polos ke ummanya mengatakan "karena saat kita meninggal yang tersisa hanya shalat dan pahala." Kalimatnya sederhana tapi ngebuat kita berpikir dalam tentang akhirat. Kita boleh sibuk dengan urusan dunia yang tidak prnah ada ujungnya tapi jangan pernah tinggalkan shalat. Setidaknya hiruk-pikuk dunia kita masih punya satu tempat pulang yang menentramkan jiwa berantakan kita melalui shalat. Selain menjadi kewajiban coba kita resapi itu sebagai suatu kebutuhan yang penting. Di sana lah kita bisa didengar tanpa takut dihakimi, di sanalah kita mengaku kalah menghadapi semuanya tanpa disalahkan, di sanalah kita menangis tanpa ditertawakan. Kita tidak merasa ragu saat ingin menumpahkan semua rasa marah, kecewa, sedih kita kepada Allah justru setelah itu, kita mengakui bahwa tanpa suara langsung dariNya pun kita merasakan bahwa Allah sedang memeluk hati dan raga yang rapuh ini. Kita merasakannya, teramat merasakannya.

Sebuah pesan,,

Tempat pulang bukan selalu dinding dan atap yang menghiasi tetapi tentang rasa tentram, di dengar bahkan saat hati kita sakit, hanya dzikirullah yang mewakili semuanya maka hal itu cukup membuat kita lega.

Kapan kita benar bisa merasakan tenang itu?

Ketika hati jujur dan ikhlas melaksanakan perintahNya, tanpa terpaksa, serta mengikuti rukun-rukun shalat dan tumani'nah.

Mungkin shalat tidak langsung memecahkan masalah yang kita hadapi di hari itu, tetapi Allah menenangkan hati kita dan seolah berkata "Kita punya Dia, Dia bersama kita, tidak meninggalkan kita sejengkal pun"

Akan ada momen kita membutuhkan orang tua, teman untuk cerita tapi nyatanya tempat ternyaman untuk mencurahkan keluh kesah kita ialah kepada Allah saat shalat dan berdoa. Jangan pernah tinggalkan shalat yah bagaimanapun keadaanmu, entah tidak bisa berdiri coba duduk, kalaupun kita kesulitan coba berbaring. Allah senantiasa memberikan kita kemudahan untuk mengingatNya melalui shalat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Judul 33 Catatan Bahagia

Judul 34 Kehilangan Arah di Masa Dewasa

Judul 39 Catatan: Dunia Bibo