Judul 33 Catatan Bahagia
Selamat malam semua...
Untuk yang sudah simak beberapa judul di blog jatuh bangun jadi dewasa, terima kasih yah.. Semoga apapun yang aku tulis dan kalian baca sama-sama mendapatkan kebaikan. Tidur nyenyak yah.
Hai Nar di sini, blog ini pengen banget aku bagi ke teman-teman aku harap catatan bahagia ini akan menular dan di terima dengan baik. Kita mungkin berpikir sempit saat masa-masa tersulit atau sedang bersusah payah akan selalu ada di lingkaran itu, terkadang di hati kita bergumam sendiri, ini kapan selesai yah? Seakan kita lebih banyak bertanya daripada merenungi kemudian mensyukuri setiap proses hidup yang kita jalani. Tapi ada nggak dari teman-teman pernah atau terlintas di kepala kita bahwa sedih, ada kok ujungnya, atau sedih nggak setiap hari, setiap waktu atau bahkan setiap menit. Sedih juga diselingi dengan bahagia. Bahagia yang kita selalu usahakan, iyakan?! Nar kali ini akan menceritakan bahwa bahagia di masa dewasa saat kita bisa benar-benar menjadi orang jujur untuk diri sendiri, tanpa menjudge atau menghakimi diri. Mungkin orang di luar sana akan berpikir bahwa kita memilih jalan bahagia yang berbeda dari biasa yang mereka lihat, tapi itulah diri kita, tumbuh nan mekar selalu. Cerita ini aku menamainya dengan catatan bahagia. Stay tune…
Sebelum itu, aku pengen disclaimer dulu kalau aku senang dengan film entah film itu film maker, fantasy, film pendek, film komedi, melodrama apalagi film yang mengingatkan tentang sastra. Aku suka sekalii. Film membuatku berkelana jauh, mengetahui dunia lain selain dunia Nar sendiri, dunia yang memberikan warna baru untukku dan bisa menjadi inspirasi cerita baru yang aku susun dalam setiap tulisanku. Salah satu film yang sangat legend dan super ikon yaitu ada apa dengan cinta? Atau singkatnya AADC, Film ini tidak asing lagi dan sangat dikenang oleh banyak kalangan terutama yang masa SMA di tahun 2000an pasti udah tahu film ini. Dan gongnya miles yakni mas Riri Riza dan Mira Lesmana menciptakan The Rebirth of AADC tapi versi anak generasi Z. judul filmnya “Rangga dan Cinta”. Nar cukup intens mengikuti proses rilisnya film ini di akhir Agustus. Why? Karena aku suka film itu tadi. Ada beberapa alasanku kemudian ingin sekali menonton film ini karena gimana film ini mengajak kita bernostalgia ke masa-masa SMA, gimana masa SMA kita membentuk mentality, emosional, personality, pertemanan yang semakin intens, gimana problem-problem di masa itu. Bukan hanya itu, film ini juga mengajak kita terkhusus aku sendiri buat gimana membangun hobi baru yang konsisten seperti membaca buku sastra misalnya, menulis puisi, mencintai serta menghargai puisi karya para sastrawan Indonesia. Film ini juga menceritakan gimana masa SMA dengan butterfly era, kisah manis yang sangat melekat bahkan saat masa itu telah berakhir.
And finally, catatan awal bahagia tepat di hari Kamis, 9 Oktober 2025 aku menonton film Rangga dan Cinta. Di waktu bersamaan, informasi bahwa cast film ini akan datang ke Makassar semakin meluas. Awalnya tidak ada harapan yang menggebu pada dua hari lalu sejak saya menulis blog ini. Karena Nar tahu pasti banyak orang yang ingin menyaksikannya. Singkatnya, me time yang aku lakuin pada saat itu menonton film. Tapi sebelum itu aku sangat berterima kasih kepada adekku tersayang Nurinda Sari yang selalu support mental dan materi juga hihi, I love you more. Teruntuk bapakku, terima kasih sudah mengizinkan anak tengahmu ini untuk me time dan nonton film sendirian tapi sebenarnya tidak sendirian juga, untuk temanku Rina dan Fuji yang selalu sigap dengar cerita random ku, yang selalu excited dengar apapun yang aku ceritain, terima kasih, sehat dan bahagianya kalian harus sering yah!
Singkatnya, aku nontolah bersama teman yang bangku sejejeran, namanya Namira. Kami mulai bercerita, tertawa bersama. Kami tergabung di show 2, kami dan satu studio benar-benar enjoy the movie “Rangga dan Cinta” merasakan atmosfer nostalgia masa-masa indah di SMA, sastra, butterfly Rangga dan Cinta. Ada tawa, ada diam seribu kata, terkadang suara sorakan cieee atau huhu yang terdengar bergema di studio 2. Setelah kurang lebih 2 jam di sesi akhir aku, Namira dan teman-teman lain itu nggak nyadar kalau sebenarnya kita kedatangan cast film Rangga dan Cinta. Suara yang awalnya diam sambil menatap layar lebar berubah menjadi bising, riuh dan sorakan nama kedua bintang film Rangga dan Cinta yakni Leya Princy dan El Putra Sarira serta sutradara mas Riri Riza. Suasana studio menjadi rasa haru, kagum bahkan ada yang histeris, kenapa? Karena kami studio 2 nggak espek mereka akan masuk di studio 2, karena yang terakhir Aku dapat informasinya kalau yang kedatangan cast “Rangga dan Cinta” itu di show 3 dan 4. Tetapi yang menjadi miracle di sini adalah di studio 2 ternyata ada dosen pembimbing dari El Putra jadi mungkin itu juga salah satu alasan terkuat. Jika tanyakan bagaimana mereka? Mereka sangat baik, humble, kasep. Mereka sangat hormat dengan orang-orang yang menghargai film mereka. Aku Cuma mau bilang mereka membuat film ini dengan hati yang penuh sehingga menghasilkan film yang teramat bermakna. Setelah keriuhan terjadi, cast film Rangga dan Cinta akhirnya ke ruangan premiere. Semua orang yang menonton film ini masih stay di lobby untuk memberikan gift kepada cast Rangga dan Cinta, surat, minta tanda tangan, dan video. Cukup heptik pada saat itu, kemudian ada obrolan singkat yang sangat memberikan inspirasi, terima kasih Namira, di situ munculah ide untuk membuat 2 puisi untuk Leya, dan puisi yang satu lagi buat Leya dan El Putra. Hal paling ku syukuri dan pertanyakan berkali-kali sampai di jalan menuju rumah, Nar ok kamu bisa bikin 2 puisi sekaligus dalam satu waktu dan di keramaian lagi, buatku sangat jarang bisa kulakukan karena kalaupun aku buat puisi pasti harus sendiri, nggak ada siapapun agar bisa fokus merangkai kata per kata jadi bait. Dan dihari itu, you did it, Nar!! Nar di sini berterima kasih banyak kepada Allah dan otak kananku.
Setelah berpikir panjang, akhirnya puisi selesai, saya memberikan puisi itu ke dua crew dari Rangga dan Cinta, karena saya sudah make sure bahwa kemungkinan besar saya tidak bisa memberikan secara langsung, banyak sekali penonton yang masih menanti mereka, desak-desakan untuk hanya bisa sedekat nadi dengan para cast Rangga dan Cinta. Alhasil saku memberikan puisi ke salah satu crew cewek dan saya bilang;
“Kak, saya buat puisi tolong diberikan ke Leya yah, puisi bacanya besok pagi aja kak, kataku” kakak itu mengiyakan dan membawa surat itu ke dalam ruangan premiere tadi. Itu puisi untuk Leya. Selanjutnya aku mau buat surat sekalian satu puisi lagi cukup singkat tapi harap-harap akan membekas. Aku melakukan hal yang tadi, memberikan ke crew cowok, aku juga tetap memberikan pesan yang seperti sebelumnya untuk puisinya bisa di baca besok atau di waktu senggang karena yah tau masih mereka juga capek seharian untuk bisa bertemu kami semua pada saat itu.
Ternyata bahagia kita bisa sesimpel dengan menonton, bertemu kawan baru, melihat cast film yang kita nonton, banyak mengobrol dengan outsider. Its is funny and sangat berkesan. Hal ini mengajarkan Nar bahwa kita tak perlu duduk lama untuk mendapatkan teman cerita, atau sekadar yapping, atau sekadar obrolan singkat terkadang hal itu terjadi spontan. Setidaknya ada momen yang membuat kita bisa lebih terbuka dengan orang-orang yang pertama kali ketemu. Nar mau berbagi puisi-1 yang aku tulis untuk Leya Princy di hari itu,
Perempuan Indah
Kamu datang penuh rasa bahagia
Senyum simpul itu, cukup membuatku banyak mengingat
Mengenang luka, tawa tapi masih saja tak tertata
Dalam gelap kau menari
Dalam sunyi kau ingin menyapa
Jangan pernah berbalik arah
Jika senja tak ingin melupakan keindahan kita
Perempuan indah,,,
Itulah perempuan paling aku inginkan
Cukup tetap indah
Layaknya bunga lili biru, selalu kau sapa di pagi harimu
Tetapi disini, untuk setiap jiwa yang menanti
Puisi ke-2 untuk Leya Princy dan El Putra Sarira.
Aku dan Kamu
Aku suka sastra, begitupun dirimu
Aku suka langit, dan sepertinya kamu juga
Aku suka hujan dan segala rintiknya
Luka membuatku belajar
Menerima lalu bahagia
Aku harap kamu pun sama
Film ini membuka cakrawala berpikirku bagaimana memandang dunia yang penuh hiruk-pikuk tetapi dengan puisi aku lebih memaknai dunia dengan estetika, bukan lagi kejamnya. Dengan berpuisi kita lebih tau cara meluapkan rasa tanpa harus bersuara maupun berteriak untuk didengar, cukup dengan menuangkannya dengan tulisan maka kita akan abadi. Kabar bahagia menyelimuti pagi kemarin saat mendapat berita bahwa puisiku di baca oleh Leya dan El, I am so happy, so proud of you Nar, bisa buat puisi seheptik itu di banyak orang. Terima kasih untuk diri sendiri. Alhamdulillah.
Catatan bahagia ini mungkin terdengar klise atau biasa aja, tetapi di sini saya lebih mengetahui bentuk kebahagiaan bukan soal kita harus bermobil mewah, punya rumah bertingkat, atau bergelar pejabat tetapi kita bisa mendapatkan kebahagiaan penuh saat kita belajar untuk tahu kapasitas bahagia yang kita inginkan itu, mulai mencari dan meresapi dari hal-hal kecil yang kita lakukan di hari ini walau sekadar jajan atau me time di taman kota, baca buku sastra/komik, atau bahkan nonton film, beli buku jika hal itu membuat bahagia dan hati serasa penuh, maka hari itu kamu sudah bahagia. Syukuri itu yah!

Komentar
Posting Komentar