Judul 36 Harapan dan Realita
Selamat malam semua...
Untuk yang sudah simak beberapa judul di blog jatuh bangun jadi dewasa, terima kasih yah.. Semoga apapun yang aku tulis dan kalian baca sama-sama mendapatkan kebaikan. Tidur nyenyak yah.
Setiap langkah kecil yang perlahan di tata terkadang tersedak, hampir jatuh dalam kubangan rasa overthinking dan gelisah hingga kita memilih untuk berhenti.
Terkadang sumpah serapah serta menyalahi keadaan menghiasai hari yang biasa orang bilang hari terberat.
Dunia seakan tak berputar pada rotasi hidup kita, berbalik arah seakan enggan melihat kita tersenyum walau sehari saja.
Apakah boleh meminta untuk sesuai keinginan kita?
Apakah boleh berharap pada sesuatu yang sangat kita mau dan langsung bisa terwujud?
Ternyata untuk mendapatkan apa yang kita harapkan, kita merasakan terjatuh dulu, sakit menyesakkan dada, bahkan air mata yang berbicara. Bukan tidak mudah bagi Allah untuk memberikan sesuatu yang spesial kepada kita tetapi bagaimana setiap apa yang kita harapkan itu membuat kita belajar dan menjadi segala hal dalam hidup sebagai pengalaman berharga.
Baru-baru ini Nar dengar konten dari Sulianto Indria Putra atau anak mudah di usianya yang 19 tahun sudah disebut sebagai miliader oleh orang-orang Indonesia atau sering disapa Suli .
Suli bilang "Kalau orang naik gunung bukan karena mereka fokus pada puncak gunung tetapi karena mereka atau pendaki itu ingin merasakan experience atau pengalaman untuk mencapai puncak gunung tersebut."
Jadi, Nar bisa simpulkan untuk meraih segala sesuatunya kita lebih bisa menghargai proses yang kita jalani, serapi dalam-dalam, serta memaknai bahwa kita bisa sejauh ini itu sudah luar biasa keren. Mengapa teramat penting untuk bersyukur? Agar hati kita menjadi tenang atas apa yang kita lakukan ataupun sesuatu yang kita tidak bisa lakukan.
Nar, gimana kalau kebanyakan orang lebih berharap hasil?
Nar, gimana kalau apa yang kita dambakan itu sama sekali bukan milik kita?
Yah, jawaban hasil bukan kita yang kendaliin, melainkan Allah Maha Mengetahui. Kita cuma berusaha semaksimal yang kita bisa dan berdoa sebanyak mungkin. Dan segala hal yang akhirnya kita sangat dambakan bukan milik kita yah, boleh jadi Allah siapkan hal spesial yang tidak kita duga kedatangannya. Setiap cela dari overthinking kita coba selipkan setitik percaya dan yakin kepada Allah, Sang Pemberi Kehidupan.
Harapan dan Realita memang tak selamanya beriringan terkadang bertolak belakang, membelakangi bahkan saling jauh. Tapi, hati perlu yakin kepada Allah tidak membawa kita sejauh ini untuk mencicipi kegagalan yang beruntun. Guys mau tau nggak kadang kita bisa dikatakan belum mengenal diri ketika lebih banyak hal negatif yang kita resapi dalam hidup. Why? Dikarenakan kita fokus dengan hal yang belum pasti terjadi, pikiran kita sudah melanglang buana kesana kemari. Cuma berhenti sejenak serta merenungi bahwa semua rencana hidup yang Tuhan susun buat kita tidak pernah salah bidikan. Semuanya tersusun rapi di lauhul Mahfudz. Tetapi kenapa yah Nar orang-orang kadang banyak mengeluh? Kenapa jauh dari ekspektasi? Sebenarnya kita tidak boleh menyalahkan apa yang orang rasakan karena setiap diri kita memiliki sikap berbeda saat menghadapi masalah. Kita tidak boleh menjudge serta menghakimi orang lain.. karena again and again setiap orang berbeda dalam menyikapi problem hidupnya.
Keluhan juga bukan sesuatu dosa jika keluhan itu diminimalisir dengan rasa lapang dada dan selalu bilang ke diri "Nggak apa-apa, aku bisa kok, atau susah sih tapi aku yakin Allah bersamaku" terkadang hal yang hampir menjerumuskan kita ke hal negatif, ingatkan diri bahwa kita punya Allah yang mengatur semuanya urusan dalam kehidupan ini. Maybe awal-awal mungkin masih berat tapi perlahan akan banyak paham atas semua harapan yang masih tertunda.
Realita terkadang menampar begitu keras, bukan untuk melukai tetapi kita diajarkan untuk menerima. Kedengarannya mudah, tapi untuk merealisasikan dengan hati butuh waktu bertahun-tahun bukan sebulan atau seminggu apalagi sehari.
Guys kita perlu reminder kalau segala hal yang tidak sesuai harapan kita akan membawa pada kebeningan hati. Kita lebih ingin memaknai hidup, merasakan jengkal proses pahit-manis-asin walaupun sebenarnya kita ketar-ketir. Bener dikatakan di reels yang seliweran di medsos kalau di fase dewasa isinya doa, doa, doa dan doa hehe..
Semangat yah, harus realistis pokoknya, harus lebih tabah dari hari-hari sebelumnya, kamu bertahan sejauh ini sudah membanggakan kok, Nar bangga sama kalian.. Kalau dunia buat kamu kecewa pulang ke Allah, mengadu dan bangun lagi harapan itu. Saat dunia berpihak sama kamu, kamu lebih bersyukur yah

Komentar
Posting Komentar