Judul 32 Pura-Pura Bahagia
Selamat malam semua...
Untuk yang sudah simak beberapa judul di blog jatuh bangun jadi dewasa, terima kasih yah.. Semoga apapun yang aku tulis dan kalian baca sama-sama mendapatkan kebaikan. Tidur nyenyak yah.
Di fase dewasa bukan perihal selalu kuat, tetapi berani menunjukkan sisi rapuh. Kita lebih jujur atas apa yang kita lakukan. Karena itulah, bentuk kita mencintai diri sendiri. Akankah di masa ini kita mau menunjukkannya? Atau malah takut dijudge atau diremehkan orang lain? Okey Nar akan bahas..
Di pertumbuhan apalagi menuju dewasa atau sudah di fase dewasa terkadang memilih untuk mencari versi bahagia sendiri itu cukup cari di diri kita bukan sepenuhnya menaruh harapan kepada orang lain, setuju nggak teman-teman? Kenapa? Keluarga, kerabat, sahabat maupun teman kita tidak memberi jaminan bahwa mereka akan sepenuhnya memberikan kebahagiaan kepada kita. Mereka juga punya dunia, kita pun begitu. Nar, gimana kalau kita sebaliknya, misalnya kita selalu memberi kebahagiaan atau mengiyakan semua hal dalam artian sederhana ke mereka? Emangnya itu nggak apa-apa? Sejatinya kebahagiaan yang kamu bagi ke orang lain tidak akan berkurang selama kamu jujur dengan diri sendiri, ikhlas. Itu saja.
Gimana kalau di beberapa momen kita melakukannya pura-pura? Gimana kalau akhirnya kita nggak bahagia melakukannya? Gimana kalau di saat itu kita harus memakain topeng?
Ada berbagai versi kita tidak nyaman melakukannya. Selayaknya sedang bertopeng bahagia, mungkin itu adalah perumpamaan yang paling tepat. Misalnya kita di ajak teman nongkrong hampir setiap hari dan pada saat itu tau bahwa kita juga punya kesibukan, tidak selalu punya waktu nongkrong bersama. Tapi, lagi-lagi kita mengiyakan karena rasa ketidakenakan tersebut. Takut disisihkan dalam geng, di bully habis-habisan di whatsApp grup, atau bisa jadi hp kita penuh notifikasi telfon mereka.
Contoh lainnya, ketika punya circle yang banyak menuntut. Harus ikut turnamen, kompetisi. Kita memiliki potensi di bidang tersebut, kita di push untuk join tanpa kata tapi, supaya circle jadi terkenal dan dilirik banyak orang. Seakan kata “tidak” adalah kata terlarang untuk mengucapkannya. Membangun citra di depan teman cukup membuat kita terlena pun membuat kita punya penyesalan. Harus bisa ini dan itu, terkadang kita mulai pressure, khawatir tetapi sulit untuk mengungkapkannya, lebih banyak diam dan yang terlontar dari lisan “iya, gass”padahal hati tidak penuh.
Nyatanya, kita sedang pura-pura bahagia. Seakan terlihat raut senyum yang tulus, tapi hati tersiksa. Kita jarang speak up terhadap perasaan kita, padahal perasaan-perasaan menolak, tidak setuju itu nggak apa-apa banget teman-teman. Lagi, kita hanya memilih memendam agar tidak jadi perisai bagi orang lain, supaya mereka nggak ikut merasakan beban yang kita rasakan. Tapi, gimana jika mereka justru yang membuat perisai itu? Harus memenuhi ekspetasi mereka tetapi kita malah terjatuh? Sakit, dan luka yang sulit sembuh.
Cobalah cari waktu terbaik, entah di atas sajadah mulai ngobrol dengan Pemilik Hidup kita. Allah. Dia tidak secara langsung berbicara dengan kita, tetapi ketenangan saat tangan hampa menengadah membuat kita jauh lebih dekat denganNya, teramat dekat. Kita bisa menemukan di tempat lain misalnya kita suka curhat dengan diri sendiri pas mengendarai motor sendirian, melihat senja di laut lepas, di terminal, atau mungkin tokoh buku? Dari sini kita lebih memiliki waktu bersama diri sendiri, mulai merasa apa yang kita butuhkan dalam hidup, apa yang membuat kita bahagia, mulai memasang batasan dengan orang lain, berani mengatakan “TIDAK” untuk semua hal yang tidak kita bisa lakukan di waktu bersamaan atau di jangka waktu berturut-turut. Hey camkan ke diri kamu juga harus punya waktu untuk diri! Kita nggak harus menjadi orang lain untuk dibanggakan atau diakui oleh semua orang atau skala kecilnya dalam circle kita tapi jika mereka benar-benar tulus berteman dengan kita tanpa ada tujuan tertentu maka mereka akan sangat terbuka menerima diri kita.
Sebuah pesan,…
Jangan pernah menyakiti diri sendiri untuk kebahagiaan orang lain, buatlah kebahagiaan untuk diri sendiri, kemudian bahagiakan orang-orang yang kamu sayangi.
Dunia cukup jahat bagi manusia-manusia yang berusaha baik, baik ke diri sendiri, keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang dia sayangi. Kita jangan melawannya dengan menantang tetapi milikilah hati yang lapang atas perlakuan atau hal-hal yang tidak berpihak ke diri kita, dan jangan pernah jadi orang lain untuk bisa mendapat perlakukan baik orang lain. Bawalah dirimu apa adanya, bertumbuh dalam kebaikan dan tidak merugikan orang-orang sekitar. Jangan pernah ragu menolak jika itu merugikan waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, pasang boundries, berani mengatakan bahwa kita tidak nyaman, kita tidak bisa, tidak cocok atau semacamnya. Itu bukan masalah. Tapi itu jujur dari hati kita. Awal dari jujur memang memberikan rasa tidak enak, banyak tanda Tanya di pikiran kita, tapi yakinlah dengan jujur hidup kita lebih tenang tanpa beban pikiran. Betul nggak? Jadi stop bilang “IYA” terus yah, Hidup harus jujur agar tenang dan tentram.

Komentar
Posting Komentar