Judul 31 Merindukan Pulang
Selamat malam semua...
Untuk yang sudah simak beberapa judul di blog jatuh bangun jadi dewasa, terima kasih yah.. Semoga apapun yang aku tulis dan kalian baca sama-sama mendapatkan kebaikan. Tidur nyenyak yah.
Hai Nar di sini, mungkin di blog kali ini aku mau menyapa teman-teman, gimana kabarnya? Bagaimana harinya? Capek nggak? Pasti dong hehe. Nar harap teman-teman senantiasa sehat dan selalu bahagia yah. Kalian pernah atau selalu ngerasa nggak lelah dengan banyaknya tugas, pekerjaan numpuk, deadline kejar-kejaran atau lagi banyak clien yang harus diladeni tiap hari? Saat ada di situasi itu kadang yang terlintas di pikiran kita bisa nggak sih ada keajaiban turun ke langit terus bantuan kita atau mungkin pernah berimajinasi jadi seorang penyulap andal yang bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin? Kayanya mustahil yah nggak sih?! Hal paling krusial yang terlintas di kepala saat ada di hari-hari berat yakni merindukan pulang. Nar akan bahas point penting di blog kali ini, stay tune…
Merindukan pulang berarti kita berbicara tentang tempat bersandar, tempat berpijak, tempat bercerita, bersuara, tempat berkeluh eksah atau bahkan tempat kita mengaduh. Terkadang dunia memberikan ke kita hal-hal yang tidak kita harapkan atau inginkan. Kecewa, patah hati, gundah, dilema dan perasaan-perasaan yang tak pernah kita duga datangnya. Dunia dengan kejamnya tak bermaksud melukai kita, hanya saja kita dituntut untuk jadi manusia kuat, teguh pendirian, mampu bertahan dari ujian yang satu dengan ujian yang lain. Di momen inilah kita rindu pulang. Pulang pun kita harapkan bisa diterima, dipeluk dan didengar baik.
Sayangnya, di fase dewasa kita sulit untuk menemukan rumah atau tempat yang bisa kita nyaman di dalamnya, bisa menjadi diri sendiri tanpa harus bertopeng, dan bisa diterima dengan sangat baik itu berlaku pada manusia. Tapi Nar Cuma mau bilang teman-teman selama kalian hidup, kalian beragama, kalian harus tau tempat nyaman, tempat untuk berkeluh kesah atau bahkan menangis sejadi-jadinya yakni diatas sajadah panjang. Di sana mungkin kita tidak mendengar langsung gimana Allah berbicara ke kita, atau langsung mendapatkan jawaban dari berbagai pertanyaan-pertanyaan kita? Itu mustahil tapi kita sebagai muslim percaya bahwa setiap pinta, doa-doa yang kita tak lelah langitkan setiap hari, Allah selalu menjawabnya. Mungkin bukan hari itu, bukan juga esok tetapi apapun yang sekarang kita hadapi atau telah kita lewati itu juga bagian dari doa-doa yang telah lama kita panjatkan. Allah memiliki banyak cara indah untuk menjawab doa hamba-hambaNya, mulai dari Allah menyegerakan apa yang kita semogakan, atau mungkin Allah menyimpannya untuk kita sebagai gunung-gunung pahala di akhirat kelak. Sangat indah bukan?!
Terkadang sebagian kita belum menyadari sepenuhnya tempat ternyaman itu, kita berkoar-koar di sosial media, mengumbar semua permasalahan hidup kita atau curhat ke orang yang salah. Apakah dengan itu kita bisa tenang? Apakah masalah kita bisa langsung mendapat solusi? Tentu tidak, pada akhirnya hanya ada kekhawatiran, cemoohan atau tawaan yang memekik telinga kita yang kita dapatkan. Cukuplah lelah itu atau bisik itu diri sendiri yang meresapinya, biarlah kita memvalidasi perasaan-perasaan tersebut tanpa menggerutu. Saat belum sepenuhnya tenang cobalah duduk, banyak beristigfar, dan minum segelas air putih. Pun jika hal itu belum saja membuat tenang dengan yang sangat berat dan menyesakan, kita butuh didengar langsung atau kita sudah lama menahan diri cobalah pulang kepada kedua orang tua. Mereka adalah tempat kedua untuk mengadukan permasalahan dan dunia yang too much. Mereka mungkin tidak memberikan semua yang kita mau, atau solusi dari mereka tapi setidaknya melihat wajah teduh dan nasehat-nasehat sederhananya akan membuat kita jauh lebih tenang.
Sebuah pesan,…
Merindukan pulang bukan tentang tak memiliki ruang sendiri tetapi pulang ketika dunia terlalu bising dan kita butuh untuk jeda dari semuanya.
Nar mau bilang kalau lagi nggak baik-baik saja, jangan pernah sendiri, pulanglah ke orang-orang yang selalu berharap kamu hidup, yang menemani perjalanan panjang sampai titik ini. Nar juga mau bilang semuanya diatas di laur daripada dirimu, yang bisa membuatmu survive, dan kuat hingga hari ini itu juga salah satunya karena dirimu sendiri. Berterima kasih pada dirimu walaupaun hampir setiap malam hari kamu harus menangis untuk membuat semuanya jadi lebih tenang, itu bukan masalah, itu adalah kekuatan barumu untuk melanjutkan hidupmu. Nar boleh katakan kamu hebat, kamu berharga, dan kamu harus terus melakukan terbaik untuk dirimu, Allah, Rasulullah, kedua orang tua, kerabat, sahabat dan teman-teman yang masih stay sampai sekarang. Nar harap kita senantiasa punya tempat pulang paling kita dambakan, bisa menyuarakan hati kita tanpa ada keraguan. Nar harap kalian sudah menemukan tempat ternyaman itu yah. Semangat semua, kita masih memiliki banyak mimpi-mimpi yang perlu diwujudkan.

Komentar
Posting Komentar