Judul 23 Mungkin Semuanya Butuh Jeda
Selamat malam semua...
Untuk yang sudah simak beberapa judul di blog jatuh bangun jadi dewasa, terima kasih yah.. Semoga apapun yang aku tulis dan kalian baca sama-sama mendapatkan kebaikan. Tidur nyenyak yah.
Ada banyak hal yang akhirnya membuat kita berbeda dari biasanya, dulu kita mungkin lebih banyak waktu bersama teman-teman kita, ngobrol tentang kehidupan, cita dan cinta. Selalu jadi pendengar terbaik, menampung semua luka dan cerita kelam. Hal itu seakan dilakukan secara terus-menerus hingga kita berada di posisi mungkin kita butuh jeda. Adapun kita yang tiada hentinya mengejar target dan deadline, selalu memenuhi tuntutan orang lain tanpa kita sadari hal itu justru membuat kita lupa dengan hal paling penting yang dibutuhkan diri sendiri. Kita menginginkan hidup yang lebih baik tetapi terkadang ekspektasi itu membuat kita semakin jauh dari yang seharusnya.
Why? And why? Hal itu terjadinya begitu saja, mengalir layaknya air dalam teko. Proses yang harus dilalui dan menjadi growing up kita di setiap tahunnya. Guys, pernah nggak sih merasa lelah hingga kita benar-benar ingin menyudahi semuanya atau paling tidak kita lebih memilih untuk berhenti sejenak? Dan jujur pasti setiap kita pernah kepikiran dan mau melakukan hal tersebut, iyakan?! Terkadang hal sekecil ini kita sangat menutupinya sari keluarga kita, sahabat atau teman kita. Memilih untuk jeda bukan karena ego dan lebih memilih untuk tidak menjadi apa-apa tetapi dalam hati paling kecil itu sering kali bergumam “Gue lelah dengan semua ini, gue capek sumpah, pengen mati aja” mungkin pemikiran itu datang karena emosional dan kondisi yang sedang tidak baik pada saat itu hingga kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan akhirnya terucap. Perjalanan yang panjang ini, membuka pikiran kita tentang mulai menyadari bahwa segala hal yang kita jalani baik memenuhi ekspektasi diri, orang tua, soal pekerjaan, hubungan pertemanan, dan impian pada akhirnya akan sampai di titik lelah, dan di titik itulah kita bisa menyediakan ruang jeda buat diri. Bukan untuk berhenti berjuang atau stuck dengan hal yang tidak pasti melainkan bentuk kasih sayang pada diri sendiri. Sebuah pengingat bagi kita bahwa diam atau mengambil jeda adalah bagian dari proses menempuh perjalanan ini.
Mungkin semuanya butuh jeda. Saat kita benar-benar butuh istirahat maka lakukan, jangan melanjutkan perjalanan yang di dalamnya kamu akan tersiksa dan tidak bisa menjadi diri sendiri. Gimana jika menjadikan self reward sebagai jembatan untuk beristirahat? Why not. Tetapi apakah hal itu worth it untuk dilakukan? Apakah akan membuat kita tenang? Terkadang self reward yang tidak dibarengi dengan cara yang baik akan membuat kehidupan lebih rumit lagi. Tarik diri, mulai mengetahui batasan kita sebagai manusia biasa, manusia yang juga membutuhkan ruang untuk bercerita, ruang untuk berkeluh kesah, ruang untuk menumpahkan segala apa yang kita rasakan. Tetapi sejatinya semua itu sulit didapatkan pada orang lain. Karena mereka juga sama seperti kita, saling membutuhkan tetapi sulit untuk meluangkan.
Mungkin semuanya butuh jeda. Jeda dari semua harapan lebih orang lain kepada kita. Mereka mungkin pernah berekspektasi bahwa kita selalu punya waktu dan tenaga buat mereka, tetapi mereka lupa bahwa kita juga butuh itu, butuh untuk diri sendiri. Bukan tidak ingin membantu tetapi di saat itu kita juga tidak bisa entah karena ada urusan keluarga, atau kerjaan. Selayaknya kita di tuntut untuk “Iya, boleh yah, please gue butuh loh sekarang” please bilang ke diri kalian kita juga butuh ruang untuk diri sendiri, peduli diri sendiri dan berani bilang ‘TIDAK’ bahkan ke teman dekat atau orang-orang sekitar.
Sebuah pesan,...
“Kita mungkin selalu mengatakan kita kuat, kita bisa tetapi nyatanya kite butuh jeda, bukan untuk menyerah, tetapi jeda ini bagian dari menarik diri dan bertahan atas segala hiruk-pikuk dunia”
Memilih untuk diam sebentar atau istirahat bukan sesuatu hal yang salah tetapi hal yang perlu dimaklumi. Memahami perasaan dan tindakan orang lain itu adalah cara kita menghargai orang lain, menghormati orang lain dan hal itu membuat kita jadi lebih dewasa dari sebelumnya. Jeda bukan suatu kelemahan yang dibiarkan tetapi hal itu membuat kita lebih tau apa yang kita inginkan dalam hidup. Kita perlu jadi pendengar tetapi tetapkan dalam hati bahwa kita juga harus jadi orang yang lebih bijak untuk diri sendiri, jika kita ingin memenuhi ekspektasi keluarga dan diri sendiri, cobalah untuk menyeleksi hal yang mudah dan sulit kita akan hadapi kedepannya. Dan jika kita perlu mengejar target dan deadline kita di kantor atau perusahaan, carilah waktu untuk istirahat sejenak bisa dengan ngumpul dengan keluarga, healing tipis-tipis, mendaki, makan makanan enak, berenang, memanah, and the most important menurut Nar adalah banyak beribadah kepada Allah. Salah satunya shalat. Shalat adalah ruang istirahat yang paling menenangkan, mungkin segala permasalahan kita tidak selesai di hari itu, tetapi seakan Allah memasukkan ke hati kita ketenangan yang tidak bisa di bayar dengan apapun. Kata salah seorang ustadz muda bahwa walaupun kita sibuk tetapi kita tetap harus shalat, walaupun kita gaul tetapi harus shalat. Jangan tinggalkan shalat yah guys! Hidup memang butuh istirahat, tetapi setelah menemukan arti bertahan dan bertumbuh maka mari melanjutkan perjalanan tanpa terpaksa, jalani dengan rasa syukur dan paling utama menikmati hidup dan jadi diri sendiri. Jangan tidak enakan yah, jika tidak bisa jangan paksakan bisa. You need a break, alright?!

Komentar
Posting Komentar